#@@#@!![KapanLagi Cerita Korea Ep 2] ‘Jogeumman Juseyo’, Melancarkan Bahasa Korea Demi Telur Ceroboh Sapi Saat Sekolah di Kampung Ginseng.

#@@#@!![KapanLagi Cerita Korea Ep 2] ‘Jogeumman Juseyo’, Melancarkan Bahasa Korea Demi Telur Ceroboh Sapi Saat Sekolah di Kampung Ginseng.
November 5, 2020 By Joshua Williams Data

Kapanlagi. com berantakan Aku teringat, barisan antri dahar siang hari itu begitu panjang. “Menu hari ini enak bermanfaat, mungkin daging, ” komen akang kelas di depanku. Aku pasif mengangguk. Mana kutahu soal konvensi kantin sekolah, baru seminggu berarakan aku diterima. Sambil pegang nampan makan logam, aku lihat daya baskom prasmanan ketiga.  

Benar, daging ternyata, kuahnya merah. Siap-siap aku ambil dagingnya, tiba-tiba ada yang teriak di belakangku. Ibu staf kantin, berseragam putih dan celemek pink pegari lari bawa baskom. Dia tunjuk ke daging kuah merah dan bentak-bentak sambil geleng kepala. “Jigogi, jigogi, ” ngomong apa ibu ini. Lalu dia pindahkan setumpuk telur mata sapi dari ayan yang dibawanya ke nampan makanku. Bingung, aku cuma bisa menentang nampanku. Aku nggak biasa mamah lebih dari dua telur, akan tetapi nggak tahu cara bilangnya.

Di sekolahku siswa ganjil wajib ikut empat jam posisi Bahasa Korea tiap minggu. Sembrono pelajaran favoritku, karena aku mampu ngoceh berkali-kali dan tanya apapun tanpa disuruh diam oleh Bu guru, Kim seonsaengnim. Dari delapan orang di kelasku, aku hasad sama Thao. Thao siswa memutar muda kedua di angkatanku, setelah aku. Anaknya baik, ngomongnya halus, matanya bulat besar, kulitnya suci. Calon menantu ideal ibu-ibu Korea lah, sempat beberapa kali diminta orang ketemu anaknya. “Izin ke ibuku dulu di Vietnam, ” dia selalu jawab mereka.  

Yang buatku keki kelancarannya nulis hangeul. Halaman sendi tulisnya penuh, walaupun aku nggak bisa baca yang tertulis. Halamanku juga hampir penuh, isinya ‘ga’, ‘na’, dan ‘da’, diulang-ulang. Beta terus menulis, yakin nanti mampu lebih bagus dari tulisan Thao. Ah, ada huruf yang bertentangan. Sambil menghapus, aku angkat lengah.  

“Seonsaengnim, Isyarat Koreanya pork apa? ” tanyaku.  

“Dwaeji tersebut babi, gogi itu daging. Oleh sebab itu dwaeji gogi, ” jawabnya. Ego tirukan, dwaeji gogi, dwaeji gogi. Bisa dipakai di kantin itu.

Suasana kelas bahasa Korea saat masa SMA © Dokumen Pribadi Irfan Rulianto

Menu kantin sekolahku model kalender, makanan spesial tampak sebulan sekali. Siang ini giliran daging kuah merah lagi. Aku berdiri menunggu di depan warga, dan benar juga, si pokok kantin datang lagi dengan bokor telurnya. Dia tunjuk daging sambil geleng-geleng. “Dwaeji gogi! Dwaeji gogi! ” bentaknya. Oh, ternyata ini yang dia teriakkan sebulan cerai-berai. Dia taruh setumpuk telur sebab baskomnya ke nampanku. Banyaknya. Hamba jalan ke meja makan dan duduk di kursi sebelah Thao. Ku pindahkan telurku ke sepotong daging kuah merah di nampannya, sisa dua di nampanku. Lain kali aku harus tahu jalan menolaknya.

Internet pada asrama sekolahku cepat, cocok bakal streaming variety show. Aku siapkan secangkir teh di sebelah laptop, aplikasi note di hp terkuak. Buat catat istilah baru, nanti tanya maksudnya ke Kim seonsaengnim. Malam ini aku nonton Intimate Note SNSD, setelah kemarin nonton episode terakhir Hello Baby. Yoona pakai kostum cermin, sementara Sunny jadi ratu.  

“Cermin, cermin, siapa yang menyesatkan cantik, ” tanya Sunny.  

“Pastinya Paduka Istri raja yang tercantik, ” jawaban Yoona yang buat Sunny senyum gembira.  

Tiba-tiba Yoona berceloteh dengan suara meledek, “jotanda! ” dan semua orang terbahak. Aku lihat subtitle di lembah layar. “Senang banget tuh, dia”. Inilah kenapa Youtube senjataku belajar Bahasa Korea, nggak pernah kita belajar kata ini di bagian, jotanda, jotanda.  

Dengan niat pamer, esok harinya aku sebut kata ini pada kelas, setelah Kim seonsaengnim puji pelafalan Thao. Kelihatan senang tuh dia. “Jotanda! ” seruku, serupa tunjuk Thao yang lagi senyum-senyum. Nggak ada reaksi, nggak ada suara tawa. Thao lihat saya, ekspresinya kebingungan. Ah, harusnya nggak begini. Tapi aku nggak noda, so what kalau salah. Substitusi topik, aku angkat tangan.  

“Seonsaengnim, gimana caraku minta sedikit saja? ”, tanyaku.

“Jogeumman juseyo”, jawabnya. “Juseyo artinya tolong berikan, jogeumman itu sedikit saja. ” berlanjut seonsaengnim. Aku catat langsung dalam bukuku. Nggak perlu dituliskan model, hangeul bukan masalah buatku sekarang.

Walaupun bisa tanya-tanya istilah semacam itu ke siswa lokal, jarang yang bergaul sama kita, foreigner. “Nggak pede English speaking, ” kata Donghyeon. Donghyeon tersebut temanku seangkatan, rumahnya di Busan. Dia sudah dekat denganku sejak aku baru bisa bilang gamsahamnida, meskipun bahasa Inggrisnya terbata-bata. Hamba juga belajar banyak kata Korea darinya.  

“Kim Jeong Eun, bukan Jong Un, ” jelasnya.  

Sebelah kananku (cowok berkacamata) adalah Thao © Dokumen Pribadi Irfan Rulianto

Pada Jumat malam seperti ini Donghyeon sering main ke kamarku. Maklum, sama-sama hobi gosip. Roommateku bersandar di kasurnya, laptop hitam dalam pangkuan. Aku duduk di lantai, asyik ngobrol dengan Donghyeon. Dia cerita soal guru biologi dengan jubah hitam panjangnya persis profesor Snape.  

“Rambutnya juga persis, hitam bergelombang sebahu, ” katanya sambil mendorong naik kacamata bundar Harry Potter dengan terpeleset di hidungnya.  

Tiba-tiba roommateku menghadapkan laptopnya ke arahku. Selfie terbarunya dalam Facebook, backgroundnya daun gugur pelit oranye. Pasti pamer ‘like’ sedang dia. Dia lihat Donghyeon, tanda berbinar dan raut angkuh.  

“Baru sehari like-nya lewat enam puluh nih. ” Ah, yang satu ini, sungguh gampang ditebak.  

“Wah keren ya, ” dia kelihatan senang banget dengar sanjungan simpel Donghyeon.  

Teringat kejadian di kelas Etiket Korea dua minggu lalu. Saya coba lempar lagi kata itu, kali ini lengkap dengan nada meledek khas Yoona. “Jotanda! ” seruku. Ledakan suara tawa terdengar dari sampingku. Donghyeon ngakak sambil pegangi perutnya, rambut jabrik menggayun.  

“Dengar daripada mana kamu itu? ” dia tanya. Rasa bangga kecil ini buatku mau tahu bercandaan lain di Bahasa Korea. Jotanda jadi kata favoritku.

Antrian makan siang panjang. Di depanku Thao maju selangkah, tangannya giat ambil kimchi dari baskom prasmanan kedua. Dia kelihatan senang. Kadar tes Bahasa Koreanya tadi 80, kedua tertinggi di kelas. Yang paling tinggi 95. Nilaiku.  

Baskom ketiga daya daging kuah merah, lagi. Awak tengak tengok ke belakang, dan kelihatan ibu kantin keluar daripada dapur, dengan baskom telur lupa sapinya. Aku tunjuk ke warga, “Dwaeji gogi? ”, si pokok mengangguk. Berseri, aku sodorkan nampan logamku dan bilang, “Jogeumman juseyo. ” Dia ketawa, dan ditaruhlah empat telur di nampanku. Lumayanlah, nggak setumpuk lagi, ada gunanya juga ribut tanya di kelas dan nonton Youtube tiap suangi. Aku habiskan empat-empatnya.

Penulis: Irfan Rulianto

Baca KapanLagi Cerita Korea Lainnya